Sabtu, 15 November 2008

AKU DAN YUDHISTIRA


ini adalah foto aku dan yudhistira anakku yang pertama.Foto itu diambil di Pantai Kartini Rembang saat aku masih bertugas di Puskesmas Jaken Kabupaten pati.

Kamis, 25 September 2008

REZIM WAKTU

Ketika sedang sendiri dan sedang tidak melakukan apa-apa, aku kadang mencoba melihat sang waktu yang sangat otoriter dengan melihatnya apa adanya, waktu berjalan terus tanpa bisa kita hadang. Tidak terasa tubuh kita sudah jauh berubah.Perut yang dulu rata, tau-tau sudah agak buncit, mata yang dulu setajam copet, tau-tau sudah harus dibantu kaca mata meskipun untuk melihat uang seratus ribu dan melihat Dian sastrowardoyo bintang film idolaku, mataku masih berfungsi sangat normal.. Aku masih ingat banyak hal ketika aku masih SD, tau tau sekarang aku sudah punya keluarga, punya istri dan punya 2 anak laki-laki meskipun belum berani punya simpanan he..he...( maksudnya uang ) Aku masih ingat bentuk rambutku seperti apa waktu aku lulus SD, SMP dan SMA, tau-tau sekarang rambut tersebut sudah ada beberapa helai yang putih. Aku masih ingat banyak hal saat aku masih usia belasan tahun saat aku getol-getolnya main sepak bola, tau-tau sekarang usiaku sudah kepala 3. ( Tua juga belum, muda juga nggak. Kalau buah mangga istilahnya kemampo ) untuk main bola lagi tentu sudah gampang ngos-ngosan ,sekarang mainnya bola yang lain he..he. Aku masih ingat banyak hal yang aku lakukan saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar Masehi II di kota Kudus,main gobag sodor bareng teman-teman kampung di rumah pak Mantri, nyolong tebu diatas truk, nyolong mangga dan jambu dirumah tetangga yang super kikir dan lain-lain , tau-tau sekarang aku sudah jadi dokter dan tau-tau sedang melanjutkan pendidikan dokter spesialis suatu hal yang sangat tidak pernah aku pikirkan sejak aku kecil.
Aku juga tidak pernah berpikir kalau aku bisa mengarang buku, tau-tau sekarang aku sudah punya 2 buku hasil karyaku yang diterbitkan oleh 2 penerbit yang berbeda dari Yogykarta. Bahkan saat ini aku juga sudah deal dengan penerbit lain untuk menerbitkan bukuku yang ke 3. kadang aku berpikir kenapa kok nggak dari dulu-dulu aku banyak mengarang saat aku masih punya banyak waktu.Sekarang ini, Saat aku pingin banget mengarang,waktuku banyak tersita di pendidikan sehingga jadinya ya begini ini...tapi meskipun demikian, aku bersyukur karena disela sela waktuku aku masih bisa menghasilkan sebuah buku lagi yang aku tulis dengan proses mencuri-curi waktu di pendidikan misalnya disaat sela nggak ada diskusi atau pembacaan jurnal atau tugas yang lain, aku masih bisa menulis naskah cerita yang menjadi bukuku yang ke 3.
Kadang aku ingat pada saat aku masih kuliah di S1, untuk mengetik naskah atau tugas saja aku kadang pinjam mesin ketik milik Senat...bahkan saat aku lapar karena nggak punya uang, aku pernah menggadaikan mesin ketik itu bareng kawan-kawanku... ha.ha.ha.....!..
Waktu memang kadang berjalan tanpa bisa kita kendalikan.karena waktu memang begitu itu....!! Dari dulu waktu itu ya cuma 24 jam. Ada yang merasa cukup dengan waktu yang segitu ada juga yang merasa nggak cukup. Masalahnya bukan pada jumlah jam yang 24 itu tapi pada diri kita dalam memanage waktu tersebut..

Jumat, 19 September 2008

TIDAK ADA JUDUL


Pada suatu malam, aku tak bisa sedetikpun mampu memejamkan mataku. My Tien bojoku sudah terlelap, sementara Nalindra juga sudah pulas dan nampak nyaman di pelukan ibunya. Yudhistira anakku yang pertama juga sudah asyik dengan mimpinya sendiri. Acara TV tak satupun yang mampu menarik hatiku, akhirnya aku menyibukkan diri dengan membuka-buka kembali buku-buku di rak bukuku. Tiba-tiba secarik kertas jatuh dari sebuah map yang tak sengaja aku senggol. Aku baca isinya…ah ternyata sebuah puisi yang aku tulis dengan tanganku sendiri di atas kertas note almamaterku.disitu tertulis Semarang 1992. Sebuah puisi cinta yang aku tulis untuk seseorang. Aku mencoba mengingat-ingat puisi itu untuk siapa ya?..ternyata aku lupa. Aku coba mengingat-ingat tahun 1992 siapa yang dekat dengan aku? Ah ternyata aku tetap saja tidak mampu mengingatnya . Aku baca sekali lagi puisi itu, aku tersenyum sendiri setelah selesai membacanya. Ternyata aku dulu juga bisa bikin Puisi yang kayak begini.


Kamu adalah Rumah,
Tempat aku bernaung dari dari debu dan Matahari..
Kelopak matamu adalah jendela,
Yang memberi udara untuk hidupku..
Detak napasmu adalah sebuah Symponi
Mengalun lembut mendekap rasaku
Bagai dawai gitar mendenting getarkan jiwa..
Nyaring seperti air surgawi
Kamu adalah nirwana...
Indah dikenang seperti gerhana
Aku ingin malam ini kau hadir
Mengecat putih rindu yang tak bertepi
Aku ingin malam ini kau datang
Membawa sekeranjang indahmu
Biarkan cahaya angin menyinari wajahmu
Agar pagi tetap menjadi pagi...
Tetap sejuk dan tetap indah...
Seperti sepasang bola matamu !!

Semarang Maret 1992

Selasa, 26 Agustus 2008

OPERA KAMPUS KALIGAWE


Sibeng, bocah ndeso keso-keso, ..setelah lulus SMA, terdampar di rimba belantara Semarang. Tepatnya di sebuah padepokan di jalan Raya Kaligawe, sebuah jalan peninggalan Gubernur Jendral Deandles yang nggak pernah nggak macet.! Oleh karena bujuk raya ibunya, akhirnya Sibeng mau masuk ke Fakultas Kedokteran. Maka episode kehidupan masa perkuliahannya di mulai.
Kisah ini bermula ketika Sibeng harus menjalani ritual Fakultair…sebuah ritual yang wajib di jalani oleh semua calon Mahasiswa/mahasiswi kedokteran sebelum berhak menyandang gelar Mahasiswa/mahasiswi beneran. Kemudian kisah berangkai dengan kehidupan Sibeng sehari-hari baik di kampus, di rumah kost, di rumah tetangga juga kisah tentang teman Sibeng yang bernama Londo…manusia Milenium abad 20 yang super lugu dan super wagu, ada kisah cinta kawan Sibeng yang lain yaitu Pablo, lalu kegiatan-kegiatan Sibeng di kampus sepeti Dekan Cup, ujian semesteran, kisah tentang maling sepatu, banjir di tempat kost, kegiatan Sibeng mengadakan pentas seni yang di beri nama Pasca Diagnosa ke II dan lain lainnya. Ikuti terus kisah Sibeng…..di jamin puas, karena kalau anda puas, kami lemas.
Satu hal lagi, kisah ini sudah mendapat cap halal dari MUI karena terbukti tidak menggunakan minyak babu..eh babi ding. MUI yang saya maksud di sini bukan Majelis Ulama Indonesia tapi Mbah Mui rah…dukun bayi tetangga saya.

Kamis, 20 Maret 2008

INILAH NOVEL PLESETAN PERTAMA DI INDONESIA


INILAH NOVEL PLESETAN PERTAMA DI INDONESIA


Di tengah lautan buku yang terhampar di rak sebuah toko buku ternama, saya tertarik dengan sebuah buku yang terpampang dengan anggunnya di tempat kumpulan buku-buku fiksi. Sebuah buku berukuran tanggung dengan cover menyolok bergambar seorang gadis manis dengan rambut diikat menjadi 2 bagian. Jari tangan kanannya membentuk lingkaran yang melingkar dimata kanannya. Sementara di bagian belakang, nampak seorang cowok dengan balutan seragam SMA duduk di rerumputan sambil memandang sang gadis, wajah cowok itu nampak malu-malu Buku itu berjudul KACA MATA BERLENSA CINTA sebuah novel PLESETAN pertama di Indonesia yang ditulis oleh Dr BEN. Novel plesetan pertama di Indonesia? Apanya yang plesetan? Apakah ceritanya yang plesetan atau kalimatnya yang plesetan ataukah pengarangnya yang plesetan atau malah yang lainnya?
Saya tertarik untuk membacanya, apalagi dihalaman muka ada komentar dari Kelik Pelipur Lara alias Bapak Wapres Ucup Kelik yang terkenal sebagai the king of plesetan sehingga menambah kesan plesetannya.
Setelah membaca, ternyata lumayan juga. Novel ini tidak seperti novel-novel lainnya karena ketika membacanya, serasa ngemot permen Nano-nano atau makan oseng-oseng mercon yang super pedas itu.Saat membaca lembar demi lembar seperti Nano-nano dan oseng-oseng mercon tadi, setiap kunyahan selalu ada rasa dan sensasi pedas yang dimunculkan. Rasa dan sensasi itu berupa kejutan-kejutan berupa celotehan tokoh dalam cerita yang dikemas dengan gaya humor dan plesatan sehingga cerita yang sebenarnya hanya sebuah cerita sederhana tentang persahabatan dan cinta menjadi sebuah cerita yang tidak membosankan dan menghibur.
Tokoh utama dalam cerita ini bernama Yonas, seorang remaja tanggung yang digambarkan sebagai seorang remaja yang ramah, kocak, agak usil tapi sopan. Cerita bergulir dari satu kisah ke kisah yang lain secara runut Bagaimana perjalanan cintanya dengan Lisa dan persahabatannya dengan Dito semuanya bejalan dengan runut mirip melihat sebuah album foto,cuma dalam keseluruhan cerita, kesan jawanya terlalu dominan. Banyak kalimat, idiom atau kata-kata yang sangat jawa Sehingga kalau dibaca oleh orang yang bukan jawa akan sedikit terganggu. Barangkali saja karena penulisnya memang orang jawa. Penulis novel ini yaitu Dr BEN ( lengkapnya Benny Indratno ) ternyata adalah seorang dokter yang saat ini sedang menempuh pendidikan spesialisasi di bagian Patologi Klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro / RS Dr Kariadi Semarang.
Memang jarang ada seorang dokter yang mampu bertutur dan bercerita dengan penuh humor dan plesetan seperti dalam cerita ini. Barangkali itu juga merupakan nilai “lain” dari novel Kaca mata berlensa Cinta ( KBC ) ini.
Memang ceritanya sedehana malah menurut saya sangat sederhana , namun dalam kesederhanaanya itu, kita jadi diingatkan pada realita kehidupan di sekitar kita yang sebenarnya juga sederhana, karena semua akan berjalan alami. Untuk itu, ditengah hingar bingarnya etalase kehidupan yang ditawarkan disekitar kita, yang semakin hedonis dan cenderung tidak realistis tersebut, novel ringan tentang persahabatan dan cinta yang dikemas dengan gaya humor dan plesetan ini bisa menjadi alternatif hiburan yang dapat merefleksikan kembali akan nilai-nilai kehidupan yang sedang dan akan terus kita jalani dan yakini ini.! ( SIBENG )