Minggu, 16 November 2008



SPIRITUALISME

Seseorang yang menurut perhitungan langit dalam ilmu bazi ( baca: pakcek ) hanya akan berumur 50 tahun, ternyata bertahan hidup sampai 70 tahun. Ketika ditanya mengapa ia berhasil memperpanjang usia? Orang tersebut mengatakan bahwa dalam sisa-sisa kehidupannya, ia selalu berbuat baik kepada sesama. Ia membantu biaya penguburan orang mati, menolong orang yang kesulitan dan berusaha keras tidak menyakiti hati sesamanya.
Pengamat ilmu kuno dari China itu kemudian berkata bahwa perhitungan langit ternyata dapat terpatahkan oleh perbuatan perbuatan baik seseorang, meskipun seseorang itu sudah dinasibkan hanya berumur 50 tahun. Maka jangan menyerah pada ramalan atau prediksi masa depan. Semua itu bisa kita tangkal dengan perbuatan baik dan ikhlas, menembus batas-batas yang bersifat material dan fisik” katanya.
Cerita yang hampir sama sering kita dengar. Misalnya seorang yang sudah divonis tidak bisa bertahan hidup karena sakit, tapi justru sembuh total,Mahasiswa yang oleh rekan-rekannya dicap sebagai mahasiswa MDS alias masa depan suram malah sukses dikemudian hari.
Seorang Bapak yang terserang stroke berbulan-bulan hanya terbaring ditempat tidur, tiba-tiba sembuh total bahkan tidak ada lagi tanda-tanda sernagan penyakit itu. Kepada saya ia berkata” jangan menyerah, jangan mau dipermainkan oleh hidup.kita justru harus mampu mempermainkan hidup. Cerita-cerita itu mengajarkan bahwa nasib manusia ditangan manusia. Tuhan tidak akan mengubah nasib manusia kalau manusia tiak berusaha mengubahnya sendiri. Spirit inilah yang menjadi inti spiritualisme.

Spiritualisme sendiri merupakan bentuk karakteristik sistem pemikiran yang meyakini eksistensi realitas immaterial yang tidak dapat diserap oleh indera. Di Prancis gerakan ini dirintis oleh Victor Cousin bersama Royer Collard, reaksi melawan positivisme Auguste comte abad ke 19.
Di Amerika Serikat, spiritualisme bermula ditahun 1848, mengacu pada gerakan yang menaruh minat terhadap roh-roh orang mati. Di Italia, spiritualisme mengacu pada gerakan abad 20 yang dikenal sebagai spiritualisme Kristen. Yang berawal dari Gentile maupun eksistensialisme religius.
Pada dasarnya manusia adalah mahluk spiritual karena selalu terdorong oleh kebutuhan untuk mengajukan pertanyaan mendasar : mengapa saya dilahirkan? Apakah makna hidup saya? Buat apa saya melanjutkan hidup saat lelah, depresi, atau merasa terkalahkan? Orang jawa mengemasnya dalam konsep sangkan paraning dumadi dan cakra manggilingan. Asal muasal manusia dan bahwa manusia itu berada dalam roda kehidupan yang beputar kadang diatas, kadang disamping atau kadang dibawah.
Danah Zohar dan Ian Marshall ( dalam spiritual Quotient) menulis, kita merasakan suatu kerinduan untuk melihat hidup kita dalam konteks yang lebih lapang dan bermakna, baik dalam keluarga, masyarakat, karier, agama,maupun alam semesta.
Spiritualisme menguatkan manusia ketika mengalami bencana atau menghadapi masa depan yang tidak menentu. Dengan spiritualisme, manusia dapat menembus rasa sakit, sengsara, musibah dan ramalan-ramalan tentang masa depan tidak berpengharapan.
Spiritualisme melihat makna yang lebih berarti daripada sekedar yang material phisik. Maka ketika menerima musibah, orangpun dapat mengatakan pasti ada hikmah dibalik musibah ini. Bahkan orang jawapun selalu mengatakn untung dibalik musibah. Misalnya ada kecelakaan yang menyebabkan kakinya cedera, ia msih berkata untung Cuma luka, nggak patah. Kalaupun ada yang patah masih bisa berkata untung hanya satu yang patah dst.
Spiritualisme mampu menjaga ketabahan dan kekuatan banyak orang yang menjadi korban bencana alam. Mereka menenmbus bencana-bencana itu menuju sesuatu yang transenden.
Dalam khsasanh budaya jawa, spiritualisme mengacu pada pola pikir, sikap dan perilaku yang mengutamakan hal-hal dibalik realitas yang terlihat dengan mata ( ora kasat mata ) : realitas dibalik realitas. Ungkapan khas yang mencerminkan pandangan ini adalah : sejatine kuwi ora ono opo-opo, sing ono kuwi dudu. ( sejatinya tidak ada apa-apa. Yang ada itu bukan!)
Menghadpi masa depan yang penuh ketidak pastian ( yang tentunya membuat panik ) Spiritualime adalah jawabannya. Seperti tulisan diatas yang berkayta bhwa orang dapat mengubah nasibnya kalau mampu dan mau berusaha.
Spiritualisme lebih efektif menjawab tantangan-tantangan hidup yang makin berat!
Itulah sebabnya John Naisbitt dan Patricia Abundance pernah mengatakan : Spirituality yes, formal religion no!

Sabtu, 15 November 2008

AKU DAN YUDHISTIRA


ini adalah foto aku dan yudhistira anakku yang pertama.Foto itu diambil di Pantai Kartini Rembang saat aku masih bertugas di Puskesmas Jaken Kabupaten pati.

Kamis, 25 September 2008

REZIM WAKTU

Ketika sedang sendiri dan sedang tidak melakukan apa-apa, aku kadang mencoba melihat sang waktu yang sangat otoriter dengan melihatnya apa adanya, waktu berjalan terus tanpa bisa kita hadang. Tidak terasa tubuh kita sudah jauh berubah.Perut yang dulu rata, tau-tau sudah agak buncit, mata yang dulu setajam copet, tau-tau sudah harus dibantu kaca mata meskipun untuk melihat uang seratus ribu dan melihat Dian sastrowardoyo bintang film idolaku, mataku masih berfungsi sangat normal.. Aku masih ingat banyak hal ketika aku masih SD, tau tau sekarang aku sudah punya keluarga, punya istri dan punya 2 anak laki-laki meskipun belum berani punya simpanan he..he...( maksudnya uang ) Aku masih ingat bentuk rambutku seperti apa waktu aku lulus SD, SMP dan SMA, tau-tau sekarang rambut tersebut sudah ada beberapa helai yang putih. Aku masih ingat banyak hal saat aku masih usia belasan tahun saat aku getol-getolnya main sepak bola, tau-tau sekarang usiaku sudah kepala 3. ( Tua juga belum, muda juga nggak. Kalau buah mangga istilahnya kemampo ) untuk main bola lagi tentu sudah gampang ngos-ngosan ,sekarang mainnya bola yang lain he..he. Aku masih ingat banyak hal yang aku lakukan saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar Masehi II di kota Kudus,main gobag sodor bareng teman-teman kampung di rumah pak Mantri, nyolong tebu diatas truk, nyolong mangga dan jambu dirumah tetangga yang super kikir dan lain-lain , tau-tau sekarang aku sudah jadi dokter dan tau-tau sedang melanjutkan pendidikan dokter spesialis suatu hal yang sangat tidak pernah aku pikirkan sejak aku kecil.
Aku juga tidak pernah berpikir kalau aku bisa mengarang buku, tau-tau sekarang aku sudah punya 2 buku hasil karyaku yang diterbitkan oleh 2 penerbit yang berbeda dari Yogykarta. Bahkan saat ini aku juga sudah deal dengan penerbit lain untuk menerbitkan bukuku yang ke 3. kadang aku berpikir kenapa kok nggak dari dulu-dulu aku banyak mengarang saat aku masih punya banyak waktu.Sekarang ini, Saat aku pingin banget mengarang,waktuku banyak tersita di pendidikan sehingga jadinya ya begini ini...tapi meskipun demikian, aku bersyukur karena disela sela waktuku aku masih bisa menghasilkan sebuah buku lagi yang aku tulis dengan proses mencuri-curi waktu di pendidikan misalnya disaat sela nggak ada diskusi atau pembacaan jurnal atau tugas yang lain, aku masih bisa menulis naskah cerita yang menjadi bukuku yang ke 3.
Kadang aku ingat pada saat aku masih kuliah di S1, untuk mengetik naskah atau tugas saja aku kadang pinjam mesin ketik milik Senat...bahkan saat aku lapar karena nggak punya uang, aku pernah menggadaikan mesin ketik itu bareng kawan-kawanku... ha.ha.ha.....!..
Waktu memang kadang berjalan tanpa bisa kita kendalikan.karena waktu memang begitu itu....!! Dari dulu waktu itu ya cuma 24 jam. Ada yang merasa cukup dengan waktu yang segitu ada juga yang merasa nggak cukup. Masalahnya bukan pada jumlah jam yang 24 itu tapi pada diri kita dalam memanage waktu tersebut..

Jumat, 19 September 2008

TIDAK ADA JUDUL


Pada suatu malam, aku tak bisa sedetikpun mampu memejamkan mataku. My Tien bojoku sudah terlelap, sementara Nalindra juga sudah pulas dan nampak nyaman di pelukan ibunya. Yudhistira anakku yang pertama juga sudah asyik dengan mimpinya sendiri. Acara TV tak satupun yang mampu menarik hatiku, akhirnya aku menyibukkan diri dengan membuka-buka kembali buku-buku di rak bukuku. Tiba-tiba secarik kertas jatuh dari sebuah map yang tak sengaja aku senggol. Aku baca isinya…ah ternyata sebuah puisi yang aku tulis dengan tanganku sendiri di atas kertas note almamaterku.disitu tertulis Semarang 1992. Sebuah puisi cinta yang aku tulis untuk seseorang. Aku mencoba mengingat-ingat puisi itu untuk siapa ya?..ternyata aku lupa. Aku coba mengingat-ingat tahun 1992 siapa yang dekat dengan aku? Ah ternyata aku tetap saja tidak mampu mengingatnya . Aku baca sekali lagi puisi itu, aku tersenyum sendiri setelah selesai membacanya. Ternyata aku dulu juga bisa bikin Puisi yang kayak begini.


Kamu adalah Rumah,
Tempat aku bernaung dari dari debu dan Matahari..
Kelopak matamu adalah jendela,
Yang memberi udara untuk hidupku..
Detak napasmu adalah sebuah Symponi
Mengalun lembut mendekap rasaku
Bagai dawai gitar mendenting getarkan jiwa..
Nyaring seperti air surgawi
Kamu adalah nirwana...
Indah dikenang seperti gerhana
Aku ingin malam ini kau hadir
Mengecat putih rindu yang tak bertepi
Aku ingin malam ini kau datang
Membawa sekeranjang indahmu
Biarkan cahaya angin menyinari wajahmu
Agar pagi tetap menjadi pagi...
Tetap sejuk dan tetap indah...
Seperti sepasang bola matamu !!

Semarang Maret 1992

Selasa, 26 Agustus 2008

OPERA KAMPUS KALIGAWE


Sibeng, bocah ndeso keso-keso, ..setelah lulus SMA, terdampar di rimba belantara Semarang. Tepatnya di sebuah padepokan di jalan Raya Kaligawe, sebuah jalan peninggalan Gubernur Jendral Deandles yang nggak pernah nggak macet.! Oleh karena bujuk raya ibunya, akhirnya Sibeng mau masuk ke Fakultas Kedokteran. Maka episode kehidupan masa perkuliahannya di mulai.
Kisah ini bermula ketika Sibeng harus menjalani ritual Fakultair…sebuah ritual yang wajib di jalani oleh semua calon Mahasiswa/mahasiswi kedokteran sebelum berhak menyandang gelar Mahasiswa/mahasiswi beneran. Kemudian kisah berangkai dengan kehidupan Sibeng sehari-hari baik di kampus, di rumah kost, di rumah tetangga juga kisah tentang teman Sibeng yang bernama Londo…manusia Milenium abad 20 yang super lugu dan super wagu, ada kisah cinta kawan Sibeng yang lain yaitu Pablo, lalu kegiatan-kegiatan Sibeng di kampus sepeti Dekan Cup, ujian semesteran, kisah tentang maling sepatu, banjir di tempat kost, kegiatan Sibeng mengadakan pentas seni yang di beri nama Pasca Diagnosa ke II dan lain lainnya. Ikuti terus kisah Sibeng…..di jamin puas, karena kalau anda puas, kami lemas.
Satu hal lagi, kisah ini sudah mendapat cap halal dari MUI karena terbukti tidak menggunakan minyak babu..eh babi ding. MUI yang saya maksud di sini bukan Majelis Ulama Indonesia tapi Mbah Mui rah…dukun bayi tetangga saya.